Selasa, 25 Mei 2010

Ijinkan Aku Menciummu Ibu

Ijinkan Aku Menciummu Ibu

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantunya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang, senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nihak, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terakhir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

PERLU DIKETAHUI

MUSUH UTAMA MANUSIA, ADALAH DIRINYA SENDIRI

KEGAGALAN UTAMA MANUSIA, ADALAH KESOMBONGAN

KEBODOHAN UTAMA MANUSIA, ADALAH MENIPU

KESEDIHAN UTAMA MANUSIA, ADALAH RASA IRI HATI

KESALAHAN UTAMA MANUSIA, ADALAH MENCAMPAKKAN DIRINYA SENDIRI

DOSA UTAMA MANUSIA, ADALAH MENIPU DIRINYA DAN ORANG LAIN

SIFAT YANG PALING DAPAT DIUJI, ADALAH SEMANGAT KEULETANNYA

KEHANCURAN MANUSIA TERBESAR, ADALAH RASA KEPUTUSASAAN

HARTA UTAMA MANUSIA, ADALAH KESEHATAN

HUTANG TERBESAR MANUSIA, ADALAH HUTANG BUDI

HADIAH UTAMA MANUSIA, ADALAH LAPANG DADA DAN MAU MEMAAFKAN

KEKURANGAN UTAMA MANUSIA, ADALAH SIFAT BERKELUH KESAH DAN TIDAK
MEMILIKI KEBIJAKSANAAN

KETENTRAMAN DAN KEDAMAIAN MANUSIA, ADALAH SUKA BERDANA DAN BERAMAL.

HIDUP


HIDUP ADALAH TANTANGAN
HIDUP ADALAH PEMBERIAN
HIDUP ADALAH PETUALANGAN
HIDUP ADALAH DUKA CITA
HIDUP ADALAH TRAGEDI
HIDUP ADALAH TUGAS
HIDUP ADALAH PERMAINAN
HIDUP ADALAH MISTERI
HIDUP ADALAH LAGU
HIDUP ADALAH KESEMPATAN
HIDUP ADALAH PERJALANAN
HIDUP ADALAH JANJI
HIDUP ADALAH KASIH SAYANG
HIDUP ADALAH INDAH
HIDUP ADALAH PERJUANGAN
HIDUP ADALAH JIWA / ROH
HIDUP ADALAH TEKA – TEKI
HIDUP ADALAH CITA-CITA HADAPILAH
TERIMALAH
TANTANGLAH
TANGGULANGILAH
AKUILAH
LAKSANAKANLAH
MAINKANLAH
SINGKAPILAH
NYANYIKANLAH
AMBILLAH
LENGKAPILAH
PENUHILAH
NIKMATILAH
BERSYUKURLAH
BERTARUNGLAH
SADARLAH
PECAHKANLAH
CAPAILAH







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar